Mahasiswa Ngaji Lulus Cumlaude ?

Nasehat, Remaja Muslim

Gimana nih, katanya mahasiswa ngaji, tapi IP-nya kok NASAKOM (Nilai Satu Koma), kok kayaknya gak peduli banget dengan kuliahnya. Jangan-jangan kalo kita seperti dia, ntar nasibnya sama.”

Nak, kalau jadi mahasiswa di sana nanti, jangan lupa belajar agama, ya. Jangan belajar ilmu dunia saja. Dunia ini sementara, jangan lupa kampung akhirat kita yang kekal.

Ya, seharusnya IP mahasiswa yang belajar ilmu agama bisa memenuhi syarat kelulusan cum laude (tetapi tidak wajib cum laude juga). Mengapa? Karena ilmu agama yang ia pelajari mengajarkan agar ia menjadi mahasiwa yang baik, membanggakan orang tua, berguna bagi orang lain dengan ilmu yang ia miliki.

Mahasiswa harus menjaga amanat dari orang tua

Lulus dengan pulang membawa gelar adalah bentuk berbakti kepada orang tua dan kuliah juga adalah amanat dari orang tua. Maka, kita harus sebisa mungkin membanggakan orang tua dengan nilai yang baik atau lulus tepat waktu. Perlu diketahui bahwa pada masa hidup orang tua kita saat kita kuliah, yang lebih menjadi ukuran kebanggaan dan percaya diri mereka sesama teman bukanlah harta dan bukan pula jabatan, melainkan kesuksesan anak. Betapa banyak ibu-ibu yang minder tidak datang arisan karena anaknya tidak lulus-lulus atau bermasalah. Padahal, mereka kaya dan memiliki jabatan.

Buatlah orang tua kita bangga dengan kesuksesan kita. Mungkin ini jalan terbaik untuk membalas budi mereka yang tidak akan bisa terbalaskan. Sebagai seorang muslim, kita harus berusaha menunaikan amanat dengan baik. Perhatikan Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya.” [Al-Mu’minun: 8]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” [Al-Anfal : 27]

Islam mengajarkan kita agar berilmu dan menuntut ilmu

Islam memberikan motivasi agar kita berilmu dan Islam pun meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Seharusnya ini dapat menyemangati kita belajar di kampus dan menjadi mahasiswa yang baik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Dan katakanlah (wahai Nabi Muhammad) tambahkanlah ilmu kepadaku.” [Thaaha : 114]

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu.” [Az Zumar : 9]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.”1

Mahasiswa muslim harus pandai mengelola waktu

Mengaji dan belajar agama tidak mengahalangi belajar di kampus karena seorang muslim diperintahkan oleh agama agar bisa mengatur dan menghargai waktunya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menukilkan perkataan Imam Syafi’i rahimahullah, beliau berkata,

صَحِبْتُ الصُّوفِيَّةَ فَلَمْ أَسْتَفِدْ مِنْهُمْ سِوَى حَرْفَيْنِ: أَحَدُهُمَا قَوْلُهُمْ: الْوَقْتُ سَيْفٌ، فَإِنْ قَطَعْتَهُ وَإِلَّا قَطَعَكَ “.

Saya menemani seorang sufi, saya tidak mendapat manfaat kecuali dua, salah satunya: Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu.”2

Dan orang yang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faedah. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.

Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.3

Mereka juga pelit dengan waktu mereka, sebagaimana diungkapkan Hasan Al-Bashri rahimahullah,

أدركت أقواما كان أحدهم أشح على عمره منه على درهمه

Aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) daripada terhadap dirham (harta) mereka.”4

Mahasiswa muslim berusaha merancang masa depan dan menjadi berguna bagi orang lain

Kita diajarkan agar memiliki target dan capaian, serta melihat masa depan kita. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [الحشر : 18]

Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Hasyr: 18]

Selain itu, kita harus berusaha berguna bagi orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”5 

Mahasiswa muslim juga harus tetap belajar agama, terutama ilmu yang wajib

Menjadi mahasiswa adalah tahap yang bisa dibilang surga kehidupan. Hidup bebas, tidak banyak campur tangan orang tua, dan (kebanyakan) belum ada beban mencari uang. Akan tetapi, jangan sampai ia lupa belajar agama selain belajar ilmu dunia di kampusnya. Tidak mesti menjadi ustadz karena setiap orang memiliki jalan jihad masing-masing. Belajar agama yang wajib-wajib dahulu, misalnya akidah dan tauhid, fikih keseharian dan akhlak. Adapun masalah ushul fiqh dan takhrij hadits, ini adalah urusan para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.”6

Demikian semoga bermanfaat.

***

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Dosen FK UNRAM Mataram dan Pembina KIPMI (Komunitas Ilmuwan dan Profesional Muslim Indonesia)

___

Catatan kaki

1 HR. Bukhari No. 71 dan Muslim No. 1037.

2 Al-Jawabul Kaafi Hal. 156, Darul Ma’rifah, Beirut, 1418 H, syamilah.

3 Lihat Miftahul Afkar dan Mausu’ah khutab Al-Mimbar.

4 Dinukil dari “waqtuka huwa umruka”. Sumber: http://www.saaid.net/female/r166.htm

5 Hadits dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ No. 3289.

6 HR. Ibnu Majah No. 224, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah.

Please follow and like us:
20

Tinggalkan Balasan