Mengenal Syirik dan Bahayanya (Part 1)

Aqidah, Buletin Tunas Ilmu, Ustadz Abdullah al-Jawy

bismilah_4

Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar ungkapan “sirik amat sih elo…”, yang dimaksud adalah  iri hati dan dengki. Akan tetapi pembahasan syirik di sini bukan yang dimaksud demikian, akan tetapi Syirik di sini adalah perkara yang merusak keimanan dan tauhid. Syirik secara bahasa artinya bersama-sama, berpartisipasi, dan bersekutu/menyekutukan. Secara istilah Syirik artinya menjadikan sekutu/tandingan bagi Allah. Allah berfirman :

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaKu tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai partisipasi dalam (penciptaan) langit atau Adakah Kami memberi kepada mereka sebuah kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka”.[ Fathir : 40 ]

Macam Syirik

  1. Syirik besar, artinya menjadikan sekutu/tandingan bagi Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan Allah [uluhiyah, rububiyah, dan Asma wa Sifat].[1]
  2. Syirik kecil, artinya perkara yang disebut oleh nas-nas syar’i (Al Quran dan Hadits) sebagai kesyirikan akan tetapi tidak termasuk dalam ruang lingkup batasan syirik besar.[2]

Sebelum lebih jauh membahas tentang syirik terlebih dahulu kita rinci dengan istilah uluhiyah, rububiyah, dan Asma wa Sifat.

Uluhiyah berasal dari kata Ilah, maksudnya adalah terkait dengan kekukhususan Allah yang terkait dengan penyembahan dan peribadatan. Yaitu Allah adalah satu-satunya Yang berhak dan benar untuk disembah dan diibadahi, dan selain Allah tidak ada yang berhak dan tidak ada yang benar untuk disembah dan diibadahi.

Rububiyah berasal dari kata Rabb, maksudnya adalah terkait dengan kekhususan Allah yang terkait dengan penciptaan, menghidupkan, mematikan, menguasai, mengatur, memberi rizki, kemampuan Allah atas segala sesuatu. Yaitu Allah adalah satu-satunya Yang Maha menciptakan, menghidupkan, mematikan, menguasai, mengatur, memberi rizki, mampu atas segala sesuatu.

Asma wa Sifat, artinya Nama-nama dan Sifat Allah. Maksudnya terkait dengan kekhususan Allah yang terkait dengan Nama-namaNya dan Sifat-sifatNya yang indah serta sempurna. Di dalam menetapkan Nama dan Sifat Allah haruslah berdasarkan firman Allah sebagaimana Allah telah menamai dan mensifati dirinya sendiri dan berdasarkan sabda Rasulullah yang shahih, yang tidak boleh ditolak, tidak boleh disamakan dengan makhluk, tidak boleh dibagaimanakan, dan tidak boleh selewengkan maknanya atau lafaznya.

Kembali kepada pengertian Syirik besar yaitu menjadikan sekutu/tandingan bagi Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan Allah [rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat]. Hal itu bisa terjadi pada salah satunya [rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat] atau lebih.

Agar semakin memperjelas gambaran syirik besar, kita ulas contoh berikut ini!

Syirik dalam perkara Uluhiyah

Memalingkan atau menujukan atau mengarahkan jenis ibadah atau sebagian ibadah tertentu kepada selain Allah. Semisal sholat atau berdoa kepada kuburan/orang yang sudah mati. Rasulullah bersabda :

لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا

“Janganlah kalian sholat menghadap ke Kuburan dan jangan duduk di atasnya”[3]

Syirik dalam perkara Rububiyah

Meyakini atau bersikap bahwa “Dewi Sri” sebagai dewa yang menumbuhkan dan menyuburkan padi. “Nyi Roro Kidul” sebagai penguasa laut selatan. Meyakini jimat, atau rajah, atau pelarisan tertentu mampu memberikan atau menambah rizki.

Syirik dalam perkara Asma wa Sifat

Allah telah mensifati dirinya dengan firmanNya :

“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.” [ Al Ikhlash : 3 – 4 ]

Maka jika ada yang mengatakan bahwa Allah punya anak maka ini merupakan bentuk kesyirikan dan kekufuran sekaligus. Allah berfirman :

Dan mereka berkata: “Allah yang Maha Pemurah (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.[ Maryam : 88 – 91 ]

Adapun syirik kecil, contoh-contohnya sebagai berikut :

  1. Bersumpah atas nama selain Allah.

Bersumpah dengan atas nama selain Allah adalah perbuatan kesyirikan, walaupun itu sebagai syirik kecil akan tetapi cukuplah itu dikatakan sebagai dosa yang cukup besar. Seperti ucapan “demi langit” atau “demi bumi” ketika bersumpah atau yang semisal. Rasulullah melarang bersumpah atas nama selain Allah. Beliau bersabda :

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلاَ يَحْلِفْ إِلاَّ بِاللَّهِ

“barangsiapa bersumpah maka janganlah ia bersumpah melainkan dengan nama Allah”[4]

Rasulullah juga bersabda :

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ.

“Barangsiapa bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh ia telah berbuat kekafiran atau kesyirikan.”[5]

  1. Riya’.

Yaitu seseorang beramal akan tetapi ia tidak ikhlas karena Allah, terkadang karena tendensi dunia, terkadang karena pujian, terkadang karena ingin dikenal dan lain-lain. Seperti seseorang bersedekah tapi terbesit dalam hatinya niatan agar dilihat orang lain dan dianggap dermawan. Atau ibadah-ibadah yang lain. Rasulullah bersabda :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.

“Sungguh suatu yang paling aku khawatirkan dari hal-hal aku khawatirkan kepada kalian, yaitu syirik kecil. Para sahabat berkata : Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? Rasulullah bersabda : Riya’. Allah akan mengatakan kepada pelaku riya’ pada hari kiamat, ketika manusia telah menerima balasan dari amalan mereka : pergilah kepada mereka yang engkau pamrihkan dengan amalanmu di dunia, perhatikan apakah mereka memiliki balasan/imbalan.”[6]

Dan tidak betapa banyak orang yang tertipu dengan syirik kecil ini, sebab ia sangat lembut. Ia seperti semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Tidak ada yang selamat melainkan mereka yang dijaga oleh Allah dengan cahaya bashiroh. Rasulullah bersabda :

الشِّرْكُ فِي أُمَّتِي أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ عَلَى الصَّفَا

“Kesyirikan pada umatku lebih tersembunyi dari semut yang paling kecil di atas hamparan batu yang luas nan halus.”[7]

Dan masih ada beberapa contoh lainnya yang tidak bisa kita bahas satu persatu.

Wallahu ta’ala a’lam.

Klaten, Sabtu 02 Rajab 1437 H.

*****

Penulis : Abdullah Al Jawiy (Pengajar Ma’had Ukhuwah, Sukoharjo)

Artikel www.KajianSolo.com

[1] Arkanul Islam oleh Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath Thoyar. Lihat juga di Ma’arijul Qobul, begitu juga Fatwa Lajnah Daimah.

[2] Arkanul Islam oleh Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath Thoyar.

[3]  HR. Muslim.

[4]  HR. Al Bukhari dan Muslim.

[5]  HR. At Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Hibban,  Al Hakim, Al Baihaqiy, Ath Thoyalisi dan Ahmad. Al Hakim berkata : Shahih, dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Juga dinyatakan Shahih oleh Al Albaniy dalam irwa’.

[6]  HR. Ahmad dalam musnadnya, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir.

[7]  HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah dan dinyatakan shahih oleh Al Albaniy. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ath Thobroniy dalam Al Ausath dengan sanad yang hasan.

Please follow and like us:
20

Tinggalkan Balasan