Khutbah Jum’at: Musibah, Berbicara Tanpa Ilmu

Khutbah Jum'at

MUSIBAH BICARA TANPA ILMU

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. { يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }{يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا} {يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١ }

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ – وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah c …

Segala puji hanya milik Allah c, Rabb yang Maha sempurna atas semua limpahan karunia kenikmatan yang Dia berikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas baginda Rasulullah Muhammad g, sang suri tauladan umat.

Saya mewasiatkan kepada anda semua dan juga kepada saya pribadi untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah c, senantiasa menjaga ketaqwaan, berusaha untuk meningkatkan ketaqwaan, dan bersungguh dalam bertaqwa kepada Allah c dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Allah c berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”{QS. Ali Imran : 102}

Makna taqwa yang paling sederhana adalah melaksanakan perintah Allah c dan menjauhi laranganya. Sehingga kesungguhan dalam bertaqwa kepada Allah adalah kesungguhan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larang-laranganNya.

Diantara perintah Allah c adalah agar kita senantiasa bersikap dengan ilmu dan tidak asal-asalan. Sehingga berpikir, bersikap, berkata, dan berbuat senantiasa terarah dengan baik dan sesuai petunjuk Allah dan RasulNya. Allah c berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٦

“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”[Al isra’: 36]

Imam Ath Thobariy r mengatakan: “Yaitu Janganlah engkau berkata kepada manusia atau tentang mereka dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, sehingga engkau melemparkan kepada mereka kebatilan, dan mendatangkan kepada mereka sesuatu yang tidak benar.”[Tafsir Ath Thobariy]

Al Imam Al Bukhari r berkata:

اَلْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan”[Al Jami’ Ash Shahih]

Ayat dan keterangan para ulama diatas mengajarkan kepada kita untuk menjaga sikap dalam berbicara dan bersikap agar senantiasa diatas dasar ilmu. Ayat diatas juga sekaligus memberikan peringatan; bahwa semua ucapan, tingkah laku, dan perbuatan kita, semuanya akan diminta pertanggungjawaban. Jika seseorang berbicara tanpa dasar ilmu maka itu menjerumuskan diri kedalam kebinasaan mempersiapkan untuk menghadapi kemurkaan Allah, menanggung dosa dirinya sendiri sekaligus ditambah sebesar dosa orang-orang yang ia mengikuti serta ia sesatkan. Rasulullah g bersabda:

وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Dan barangsiapa merintis dalam Islam perbuatan yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim.)

Bahkan pada puncak ketidakberadaban seorang hamba adalah ketika berbicara tentang Allah tanpa ilmu, maka ia telah terjatuh pada ketergelinciran yang jauh, pada puncak kesesatan yang nyata, perbuatan kejahatan yang paling besar, dan dosa diatas kesyirikan dosa yang tidak diampuni. Allah c berfirman:

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِ‍َٔايَٰتِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٢١

“Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.”[Al An’am: 21]

Allah  berfirman:

قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) berbicara tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al A’rof: 33)

Ibnul Qayyim r ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan; “Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agamaNya, dan syari’at-Nya.”[I’lamul Muwaqi’in.]

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah kedua.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إله إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ …

Kaum muslimin semuanya yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah c …

Sudah menjadi sunatullah kauniyah, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah tentang para penyeru diatas kesesatan, yang mereka berbicara tanpa ilmu bahkan menyeru tanpa ilmu.

 

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ قَالَ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ قَلْتُ وَمَادَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman h beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah g tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”

Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”

Beliau berkata : “Ya”

Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?”

Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.

Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”

Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”

Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?”

Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”

Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?”

Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah c …

Penyakit yang menggerogoti umat bukan hanya dari luar tubuh kaum muslimin, namun tidak sedikit pula penyakit yang telah masuk kedalam tubuh kaum muslimin. Sosok-sosok yang berbicara dengan kebodohan, kelancangan, dan menyeru kepada kesesatan. Mereka para dai adalah dari kulit kita, dan berbicara dengan Bahasa kita.

Diantara contoh dari hal tersebut, kita lihat pada hari ini betapa banyak da’i yang menyeru kepada Allah, akan tetapi ia tidak mengenal Allah. Ia berbicara ibadah kepada Allah tapi ia tidak tahu di mana Allah. Lalu dengan lancangnya ia mengatakan “Allah ada dimana-mana” atau “Allah ada dihati saya”.

Wahai orang-orang yang mengatakan Allah ada dimana-mana atau dihati…

Perhatikanlah!! Bagaimana Allah c telah menyebut tentang diriNya agar para hamba mengenal dimana Dia. Allah c yang telah berfirman berkali-kali dari ayat Al Quran:

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ

“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ´Arsy.” [Al A’raf: 54]

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ

“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy.”[Yunus: 3]

ٱللَّهُ ٱلَّذِي رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ

“Allah lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy…”[Ar Ra’du: 2]

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ ٥

“(Yaitu Allah) Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ´Arsy.”[Thaha: 5]

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy.”[Al Hadid: 4]

Wahai orang-orang yang mengatakan Allah ada dimana-mana atau dihati…

Perhatikan dan dengarkan bagaimana Rasulullah g mengajarkan kepada para sahabatnya tentang dimana Allah. Mu’awiyah bin Al Hakam h menuturkan:

 

وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ, فَإِذَا بِالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا, وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ, آسَفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ, لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً, فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ g فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَفَلاَ أُعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِيْ بِهَا, فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِيْ السَّمَاءِ, قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ, قَالَ: فَأَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.

“Aku mempunyai seorang budak wanita yang berprofesi sebagai penggembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat aku memergoki seekor serigala memangsa seekor dombanya. Aku termasuk dari bani Adam, aku pun marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga aku menamparnya, kemudian aku mendatangi Rasulullah g, ternyata beliau menganggap besar masalah tersebut. Aku pun mengatakan (kepada beliau)  : “Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerdekakan budak wanita itu?” Beliau menjawab : “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi g bertanya(kepada sang budak) : “Dimanakah Allah berada?” Sang budak menjawab : “Di atas langit”. Nabi g bertanya lagi: “Siapakah aku?”. Sang budak menjawab : “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi g bersabda: (Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”. (HR. Muslim)

Wahai orang-orang yang mengatakan Allah dimana-mana atau dihati…

Perhatikan kemanakah ketika Rasulullah g melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj menghadap Allah? Apakah Rasulullah menuju kemana-mana? Ataukah cukup ditemui kedalam hati? Ataukah beliau dibawa oleh Jibril ke atas langit, ke sidrotul muntaha kemudian berjumpa dengan Allah c?!

Lalu, ketika anda berdoa kepada Allah c kemanakah engkau menengadahkan tanganmu? Apakah engkau menengadahkan kearah mana-mana? Ataukah kearah hati? Ataukah engkau menengadahkan tangan kearah Rabb yang berada di atas?!

 

Kaum muslimin semuanya yang semoga dirahmati Allah c …

Ketika seseorang mengatakan Allah c ada dimana-mana maka pada hakekatnya ia telah melakukan pencelaan dan penghinaan terhadap Allah c. Karena ia menganggap bahwa Allah berada dimana saja, termasuk di tempat kotor, di tempat najis, dan di tempat yang menjijikan sekalipun. Dan Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan dan mereka sangka.

 

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَليٍّ وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَجُوْدِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهم أعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللهم أعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا رَخَّاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اللهم آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

اللهم  يَا رَحْمٰنُ يَا رَحِيْمُ يَا وَهَّابُ يَا كَرِيْمُ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ. لَا إله إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنَّا كُنَّا مِنَ الظَّالِمِيْنَ. اللهم أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا وَإِيْمَانَنَا وَأَعْمَالَنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا.

اللهم وَفِّقْ إِمَامَنَا بِتَوْفِيْقِكَ، وَأَيِّدْهُ بِتَأْيِيْدِكَ، وَاجْزِهِ خَيْرَ الْجَزَاءِ عَنْ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اللهم وَفِّقْهُ وَنَائِبَيْهِ لِمَا فِيْهِ خَيْرٌ لِلْبِلَادِ وَالْعِبَادِ. اللهم وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ. اللهم مَنْ أَرَادَنَا وَبِلَادَنَا وَأَمْنَنَا وَرِجَالَ أَمْنِنَا بِسُوْءٍ فَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرًا عَلَيْهِ، اللهم إِنَّا نَدْرَأُ بِكَ فِي نُحُوْرِهِمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ. اللهم احْفَظْنَا كما حفظت عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

اللهم اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، وَآخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا: شَهَادَةَ أَنْ لَا إله إِلَّا اللهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

DOWNLOAD

Tinggalkan Balasan