Khubah Jum’at: BERIMAN KEPADA ALLAH

Khutbah Jum'at

BERIMAN KEPADA ALLAH

 

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ الله فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ }

{يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا}

{يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١ }

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ – وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Ma’asyirol Muslimin Rahimani wa rahimakumullah…

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, dan marilah kita senantiasa bersyukur dan memujiNya. Segala puji bagi Allah atas semua limpahan karunia kenikmatan, dan segala puji bagi Allah karena kesempurnaan dan kemuliaanNya, Dia Yang berhak dan pantas untuk memiliki segala pujian.

Sholawat dan salam semoga tercurah atas baginda Rasulullah, yang telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah, dan berjihad di jalan Allah dengan perjuangan yang sebenar-benarnya.

Ma’asyirol Muslimin sidang shalat jumat waffaqoniyallohu wa iyakum jami’an…

Saya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jama’ah sekalian dengan wasiat yang telah Allah wasiat kepada seluruh manusia, yang awal sampai dengan yang akhir. Allah berfirman:

وَلَقَدۡ وَصَّيۡنَا ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَإِيَّاكُمۡ أَنِ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian; bertakwalah kepada Allah.”{QS. An Nisa’: 131}

Bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang sesungguhnya dan sebenarnya, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Diantara perkara ketaqwaan, yang diperintahkan oleh Allah adalah kita diperintahkan untuk beriman kepada Allah. Sebagaimana Allah perintahkan, Allah berfirman:

ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَأَنفِقُواْ مِمَّا جَعَلَكُم مُّسۡتَخۡلَفِينَ فِيهِۖ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَأَنفَقُواْ لَهُمۡ أَجۡرٞ كَبِيرٞ ٧

“Berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari harta kalian yang Allah telah menjadikan kalian menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya mereka memperoleh pahala yang besar.”{QS. Al Hadid: 7}

Allah berfirman:

فَ‍َٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلنُّورِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلۡنَاۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ٨

“Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”{QS. At Taghobun: 8}

Bahkan orang-orang yang beriman pun masih diseru dengan keimanan, yang hal ini menunjukan agar seorang beriman agar lebih bersungguh-sungguh, lebih istiqomah, dan lebih mejaga keimanannya. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١٣٦

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada RasulNya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”{QS. An Nisa’: 136}

 

Ma’asyirol Muslimin sidang shalat jumat Waffaqoniyallohu wa iyakum…

Sebagaimana pengertian iman, yaitu keyakinan dalam hati yang diikrarkan dengan lisan dan diamalkan oleh anggota badan, bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan ‎kemaksiatan.‎ Begitu juga dengan iman kepada Allah, keyakinan kepada Allah dalam hati, yang dengan keyakinan itu akan terucap dengan lisan, dan diamalkan oleh anggota badan. Lalu bagaimana bentuk keyakinan tersebut? Sehingga terucap dengan lisan dan diamalkan oleh anggota badan? Asy Syaikh Prof. Dr. Abdullah Ath Thoyar  berkata :

اَلْإِقْرَارُ وَالْاِعْتِرَافُ الْمُسْتَلْزِمُ لِلْقَبُوْلِ لِلْأَخْبَارِ وَالْإِذْعَانِ لِلْأَحْكَامِ، بِأَنَّ لِهَذَا الْكَوْنِ خَالِقاً مَوْجُوْداً رَباًّ مُنْفَرِداً بِالرُّبُوْبِيَةِ وَالْأُوْلُهِيَةِ وَالْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ

“Ikrar dan pengakuan yang mengharuskan untuk menerima berita, ketundukan, dan hukum. Bahwa kebaradaan seluruh alam ini adanya Rabb yang pencipta, yang esa dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat.”

Asy Syaikh Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz Al Jibrin  berkata :

اَلْإِيْمَانُ بِوُجُوْدِ اللهِ وَإِفْرَادِهِ بِالرُّبُوْبِيَّةِ وَاْلأُلُوْهِيَّةِ وَالْإِيْمَانُ بِجَمِيْعِ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

“Yaitu beriman kepada wujud Allah dan keesaanNya dalam rububiyah, uluhiyah, dan beriman terhadap seluruh Nama-nama dan Sifat-SifatNya.”

Sehingga beriman kepada Allah meliputi empat aspek, yaitu :

Pertama. Mengimani keberadaan/eksistensi dan wujud Allah. Allah berfirman:

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri).”[ QS. Ath Thuur : 35 ]

Apakah keberadaan manusia itu tanpa ada pencipta ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri? Bahkan, jika mereka mengingkari Allah lalu siapa pula yang telah menciptakan langit dan bumi? Dunia dan seisinya bukan sesuatu yang bisa muncul sendiri atau tiba-tiba, juga bukan suatu hal yang kebetulan.

Abdullah bin Abbas  berkata : “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun” yaitu Apakah mereka diciptakan tanpa Rabb?!

Maka keberadaan, eksistensi, dan wujud Allah terbukti dengan adanya manusia, seluruh makhluk, dan dunia seisinya ini. Diri kita, tidak mungkin kita menciptakan diri-diri kita sendiri, dan lebih tidak mungkin lagi adalah kita menciptakan langit dan bumi. Jika kita melihat keberadaan seluruh dunia dan seisinya ini, maka nampak jelas dan gamblang yang membuktikan wujud atau keberadaan Allah.‎

Kedua. Mengimani bahwa Allah adalah Yang Maha menciptakan seluruh makhluk, yang menghidupkan, yang mematikan, menguasai, mengatur, memberi rizqi, dan Maha mampu atas segala sesuatu. Dan tidak ada Rabb selain Allah, tidak ada Yang Maha menciptakan , menghidupkan, mematikan, menguasai, mengatur,memberi rizqi, dan Maha mampu atas segala sesuatu melainkan hanya Allah saja. Allah berfirman : ‎

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ ٦٢

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”[QS. Az Zumar : 62]‎

Allah juga berfirman : ‎

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ فَ‍َٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٥٨

“Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan ‎bumi, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan,…”[QS. Al A’rof : 158]‎

Allah berfirman : ‎

يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُم بِلِقَآءِ رَبِّكُمۡ تُوقِنُونَ ٢

“Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kalian meyakini Pertemuan (kalian) dengan ‎Rabb kalian.”[QS. Ar Ra’du : 2]‎

Allah berfirman:

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦

“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau ‎cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang ‎Engkau kehendaki. di Tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”[QS. Ali Imran : 26 ]‎

 

Ketiga. Mengimani Asma’ wa Shifat Allah, yaitu beriman dengan Nama-Nama dan Sifat-sifat Allah yang Indah, Mulia dan Sempurna yang Allah tetapkan untuk diriNya melalui Al Quran dan Allah tetapkan melalui lisan Rasulullah yaitu As Sunah yang shahih. Allah berfirman :

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ ٨

“Dialah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik).”[Thoha : 8 ]

Allah berfirman:

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٰلِكَ سَبِيلٗا ١١٠

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)…”[Al Isra : 110 ]

Allah berfirman:

هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٢٤

“Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai Al Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik). bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi, dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[Al Hasyr : 24 ]

Adapun Al Asmaaul Husna Allah yang disebutkan di dalam Al Quran dan As Sunnah ada sembilan puluh sembilan, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Rasulullah. Rasulullah  bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمَا مِئَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, barangsiapa mempelajari dan menghafalnya ia masuk surga.”[Muttafaqun ‘Alaih.]

Akan tetapi jumlah 99 Al Asmaaul Husna tersebut bukan pembatasan, karena hakekatnya lebih dari itu. Akan tetapi selebihnya hanya Allah yang mengetahui. Rasulullah bersabda :

مَا قَالَ عَبْدٌ قَطُّ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ وَحَزَنٌ : اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ بَصَرِي، وَجِلاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي، إِلا أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلا نَتَعَلَّمُ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ؟ قَالَ:بَلْ بَلَى، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ.رواه أحمد وابن حبان والحاكم، وهو صحيح.

Tidaklah seorang yang ditimpa kesedihan dan gundah gulana kemudian berdoa ; Ya Allah sungguh aku ini hambaMu, anak hambaMu, anak hambaMu perempuan, ubun-ubunku di TanganMu, telah lalu keputusanMu kepadaku, adil semua ketentuanMu, aku memohon kepadaMu dengan semua NamaMu, yang Engkau namakan diriMu dengan Nama tersebut, atau engkau turunkan dalam kitabMu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hambaMu, atau Engkau simpan didalam ilmu ghaib di sisiMu. Agar Engkau jadikan Al Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya pandanganku, penghilang kesedihanku, pengusir gundah gulanaku.

Maka Allah gantikan kesedihannya menjadi kebahagiaan. Para sahabat berkata : Wahai Rasulullah, bukankah kami harus mempelajari kata-kata [doa] ini. Rasulullah bersabda : Ya, tentunya. Semestinya setiap orang yang mendengarnya mempelajarinya.”[HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim.]

Adapun sebagian yang menyatakan pembatasan  terhadap Nama-nama dan Sifat-sifat Allah dengan 7 saja, atau 10, atau 20, maka hal tersebut merupakan penyimpangan dan kesesatan dalam aqidah dan beriman kepada Allah dalam Al Asmaaul Husna. Allah berfirman :

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠

“Hanya milik Allah Al Asmaaul husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Al Asmaaul husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya, nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”[Al A’rof : 180 ]

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا, أَقُوْلُ كَمَا تَسْمَعُوْنَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسِتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah yang kedua.

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى مِلْأَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْأَ الْأَرْضِ وَمِلْأَ بَيْنِهِمَا وَمِلْأَ مَا شَاءَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحِابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدَّيْنَ.

Ma’asyirol muslimin a’azzaniyallohu wa iyakum…

Keempat, dari aspek keimanan kepada Allah adalah mengimani sifat Ilahiyah Allah. Kata Ilah “ إِلَهٌ ” artinya “اَلْمُسْتَحَقُّ لِلْعِبَادَةِ”yang artinya yang berhak untuk diibadahi. Artinya mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya tuhan atau sesembahan yang berhak diibadahi, dan sesembahan selain Allah adalah batil. Allah berfirman :

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ ٦٢

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah Dialah  yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”[QS. Al Hajj  : 62 ]

Inilah makna yang terkandung didalam kalimat tauhid yaitu kalimat tahlil “ لا إله إلا الله ”. Allah berfirman :

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak untuk diibadahi) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.”[QS. Al Anbiya’ : 25 ]

Dan maknanya sebagaimana Allah berfirman :

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”…”[QS. Al Nahl : 36]

 

Jadi makna kalimat “ لا إله إلا الله ” adalah tidak ada Tuhan (yang benar dan berhak untuk diibadahi) melainkan hanya Allah. Adapun sesembahan dan tuhan-tuhan selain Allah adalah thoghut yang batil, tidak benar dan tidak berhak untuk diibadahi ataupun disembah.

 

أَلاَ وَصَلُّوا ياَ عِبَادَ اللهِ عَلَى رَسُوْلِ الْهُدَى فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلَكَ فِي كِتَابِهِ { إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦ }

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلَّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْـمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَنِيَّةً خَالِصَةً وَعَزِيْمَةً رَاشِدَةً اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذاَكِرًا وَعِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً صَالِحًا مُتَقَبَّلاً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

*******

Sukoharjo, 15 Shofar 1439 H.

Abdullah Al Jawiy.

Download PDF (klik gambar)

 

Tinggalkan Balasan