Al Ahnaf bin qois: Ulama Besar Tabi’in

Biografi Salaf

RANGKAIAN BIOGRAFI PARA ULAMA SEPANJANG SEJARAH

Oleh: Abdullah Al Jawiy, S.Pd.I.

Al Ahnaf bin qois

Ulama Besar Tabi’in

Nama beliau adalah Dhohak, sebagian menyebutnya Shokhr, kunyah beliau adalah Abu Bahr. Akan tetapi beliau lebih dikenal dengan sebutan Al Ahnaf atau nama beliau Adh Dhohak. Beliau dikenal dengan Al Ahnaf karena cacat kebengkokan kakinya.

Nasab beliau adalah Dhohak bin Qois bin Mu’awiyah bin Hushoin bin ‘Ubadah bin Nazal bin Murroh bin ‘Ubaid bin Al Harits bin ‘Amr bin Sa’d bin Zaid bin Manah bin Tamim bin Mur. Sedangkan ibunda beliau adalah Habbah binti ‘Amr bin Qorth bin Tsa’labah Al Bahiliy.

Beliau adalah sosok pribadi yang tumbuh dilingkungan Bani Sa’diy, dari Bani Tamim. Sosok yang berkepribadian penuh kesantunan. Dalam pertumbuhan beliau di masa kecil, beliau sangat dipengaruhi oleh sosok pemimpin kaum Bani Tamim Qois bin ‘Ashim Al Munqiriy. Sebagaimana ia (Dhohak)  menuturkan: “Aku belajar kesantunan dari Qois bin ‘Ashim Al Munqiriy.”

Pertumbuhan Dhohak  hingga dewasa membentuk beliau menjadi sosok pemuka kaum yang sangat disegani dan dikagumi, Al Hasan Al Bashriy  menuturkan: “Aku tidak melihat sosok pemuka kaum yang lebih utama dari Al Ahnaf.”

Khalid bin Shofwan  berkata: “Al Ahnaf lari dari kemuliaan, akan tetapi kemuliaan justru mengikuti Al Ahnaf.”

Setelah diutusnya Rasulullah  yang membawa cahaya ajaran islam, terpancarlah cahaya islam ke Bani Sa’diy, maka hinggaplah keindahan islam ke relung hati Dhohak . Namun beliau belum sempat berjumpa dengan Rasulullah, sehingga beliau adalah termasuk Mukhodhrom yaitu orang yang hidup dizaman nabi, atau mendapati masa kenabian, kemudian ia masuk islam dan meninggal dunia dalam keadaan islam, akan tetapi belum sempat bertemu atau melihat nabi.

Diriwayatkan, bahwa di masa nabi, Rasulullah  mengutus salah seorang sahabatnya dari Bani Laits kepada Bani Sa’d, kabilahnya Al Ahnaf, akan tetapi mereka enggan, lalu Al Ahnaf  menerimanya dan menyerukan kepada kaumnya “Sesungguhnya ia menyeru kalian kepada kebaikan dan memerintahkan kalian berbuat baik.”. Sang utusan dari Bani Laits tersebut pun menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, kemudian Nabi  berdoa: Ya Allah, ampunilah Al Ahnaf.

Al Hasan Al Bashriy  menuturkan : Al Ahnaf bin Qois  berkata: “Suatu ketika aku sedang thawaf di Ka’bah pada zaman pemerintahan Utsman bin Affan – semoga Allah meridhainya -, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Bani Laits lalu memegang tanganku, kemudian ia berkata: Maukah aku beri kabar gembira? Akupun mengatakan: Tentu saja. Orang tersebut berkata: Apakah engkau ingat? Ketika aku diutus oleh Rasulullah kepada kaummu yaitu Bani Sa’d.  aku menyeru mereka masuk islam namun mereka enggan, kemudian engkau berkata: Sesungguhnya anda menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada hal baik. Maka aku sampaikan hal tersebut kepada Nabi, kemudian beliau pun berdoa: Ya Allah ampunilah Al Ahnaf bin Qois.”

Meskipun beliau tidak sempat berjumpa dengan Rasulullah , akan tetapi beliau  sosok pribadi yang menyempatkan sebagian dari usianya untuk menimba ilmu dari para sahabat senior dan mengajarkan kepada umat. Beliau  meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat Rasulullah,yaitu dari ‘Umar bin Al Khatab, Ali bin Abi Tholib, Abdulloh bin Mas’ud, Abu Bakroh, Abu Dzar Al Ghifari, dan beberapa sahabat yang lain . Sedangkan para ulama yang belajar dan meriwayatkan hadits dari beliau adalah ‘Urwah bin Zubair, Al Hasan Al Bashri, Tholq bin Habib, Amr bin Jawan, Abdullah bin Umairoh, Yazid bin Syikhir, Khulaid Al Ashoriy, dan lain-lain .

Dimasa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib , Dhohak  adalah termasuk salah seorang berada dibarisan pasukan Ali bin Abi Thalib dan menjadi pembela sang khalifah yang agung tersebut, bahkan beliau  adalah termasuk salah satu panglima perang pasukan Ali bin Abi Tholib ketika perang shifin.

Beliau Dhohak  wafat pada masa kekuasaan Mus’ab bin Az Zubair di Kufah pada tahun 67 H. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmatNya yang sangat luas.

  1.   Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’.
  2.   Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shohabah.
  3.   Ibnu Hajar Al Asqolaniy dalam Al Ishobah.
  4.   Lihat Bughyatuth Tholab Fi Tarikhil Halab, oleh Abu Jarodah Umar Al ‘Uqoiliy. Dan Al Mufashol Fi Tarikhil ‘Arab Qoblal Islam, oleh Dr. Jawad ‘Aliy.
  5.   Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’.
  6.   Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’.
  7.   Lihat Al Ishobah oleh Ibnu Hajar Al Asqolani, Thahdzibul Kamal oleh Yusuf bin Abdurrahman Al Mizzi, dan Al Hidayatu Wal Irsyad Fi Ma’rifati Ahli Tsiqoti Was Sadad oleh Abu Nashr Al Bukhari Al Kalabadziy.
  8.   Al Hidayatu Wal Irsyad Fi Ma’rifati Ahli Tsiqoti Was Sadad oleh Abu Nashr Al Bukhari Al Kalabadziy.
  9. Al Bukhariy dalam At Tarikh Al Kabir, dan Al Hakim  dalam Mustadroknya.
  10.   Abu Sahl Muhammad Al Maghrowiy dalam Mausu’ah Mawaqifus Salaf.
  11.   Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala’.
  12.   Al Hidayatu Wal Irsyad Fi Ma’rifati Ahli Tsiqoti Was Sadad oleh Abu Nashr Al Bukhari Al Kalabadziy.
  13.   Yusuf bin Abdurrahman Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal.

Tinggalkan Balasan